Oleh: Muhamad Azril
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang suci, dimana banyak keistimewaan
yang tidak dimiliki bulan yang lain. Diantara keistimewaan tersebut ialah
adanya ibadah salat tarawih, lailatul qodar dan lain sebagainya. Tentu dengan
keistimewaan-keistimewaan tersebut, sebuah kerugian bagi kita jika mengabaikan
bulan Ramadhan dengan tidak mengamalkan ibadah sebanyak mungkin.
Keutamaan Salat Rawatib
Pada dasarnya salat ba’diyah isya’ dan salat tarawih sama-sama memiliki
keutamaan yang besar. Salat ba’diyah isya’ termasuk sunnah rawatib yang sangat
dianjurkan karena Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkannya. Imam An-Nawawi
dalam Al-Majmu' 4/54 mengutip pendapat
Imam Asy-Syafi’i
قال الشافعي
رحمه الله في الأم: وأحب أن يحافظ على الصلوات التي كان رسول الله ﷺ يحافظ عليها وهي
ركعتان الفجر، والوتر، والركعات التي في إثر المكتوبات
“Aku suka menjaga salat-salat yang dijaga Rasulullah ﷺ yaitu: dua
rakaat fajar, witir, dan rakaat-rakaat sunnah setelah salat fardhu.”
Disamping itu Rosulullah saw juga menjamin keutamaan orang yang
melaksanakan salat sunnah.
مَا مِنْ
عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا
غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang shalat sunnah 12 rakaat setiap hari selain shalat
fardhu, Allah akan membangunkan rumah baginya di surga.” (HR. Muslim No. 728)
Selain jaminan pahala dan keutamaan yang besar, salat sunnah rawatib
juga berfungsi sebagai penyempurna kekurangan yang ada dalam salat fardlu. Hal
ini terkonfirmasi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi,
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ
مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ
صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنِ
انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ
لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ
يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ
Artinya: Sesungguhnya amal seorang hamba yang dihisab pertama kali
di hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik maka ia beruntung dan
selamat. Jika salatnya buruk maka ia gagal dan rugi. Jika ada yang kurang dari
ibadah fardhu-nya, maka Allah SWT berkata: lihatlah, apakah hambaku ini
melakukan ibadah sunnah? Maka dengan ibadah sunnah tersebut kekurangan salat
fardhu-nya akan disempurnakan, begitu pula amal-amal lainnya.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan fungsi shalat sunnah
sebagai penyempurna shalat wajib:
وَسُنَنُ
الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَةِ تُكْمِلُ نَقْصَ الْفَرِيضَةِ وَتَجْبُرُهُ، وَهَذَا مَأْخُوذٌ
مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ
شَيْءٌ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ؟ “ فَالْمُسْتَحَبُّ
الْمُوَاظَبَةُ عَلَيْهَا
Artinya: salat sunnah rawatib dapat menyempurnakan dan menembel
kekurangan salat fardhu. Hal tersebut sesuai dengan hadis Rosulullah saw: jika
ada yang kurang dari salat fardhu-nya, maka Allah SWT berkata: lihatlah, apakah
hambaku ini melakukan ibadah sunnah? Maka disunnahkan menekuni salat sunnah
tersebut.
Keutamaan Salat Tarawih
Salat tarawih adalah ibadah khusus yang hanya dilakukan di bulan
Ramadan. Imam Zainuddin Al-Malibari mengatakan dalam karyanya Fathul Mu’in
1/265:
وَسُنَّتْ
لَيْلَةَ كُلِّ رَمَضَانَ صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ
مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَتُؤَدَّى جَمَاعَةً
Artinya: Setiap malam bulan Ramadhan disunnahkan melaksanakan salat
tarawih sebanyak 20 rokaat dengan cara melakukan salam di setiap dua rokaat,
serta dilaksanakan dengan berjamaah.
Salat tarawih memiliki keutamaan yang besar sebagaimana hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim:
مَنْ قَامَ
رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa shalat malam di bulan Ramadan dengan iman dan
mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR.
Bukhari No. 37, Muslim No. 759)
Salat Tarawih Tanpa Ba'diyah Isya'
Pada umumnya, orang-orang melaksanakan salat isya' berjamaah
kemudian salat sunnah ba'diyah lalu diakhiri dengan salat tarawih dan witir.
Namun, ada sebagian yang memilih langsung melaksanakan salat tarawih setelah
salat isya', tanpa melaksanakan salat sunnah ba'diyah isya' terlebih dahulu.
Lantas apakah hal semacam ini dapat dibenarkan?
Pada dasarnya salat rawatib harus didahulukan pengerjaannya dari
pada salat tarawih, namun jika langsung melaksanakan tarawih tanpa rawatib
(ba'diyah isya') hukumnya tetap sah, hanya saja ia kehilangan keutamaan salat
sunnah rawatib (ba'diyah isya'). Sebagian ulama memberi solusi agar seseorang
dapat mempersingkat waktu antara salat sunnah rawatib dan salat tarawih yaitu
dengan menjadikan dua rakaat pertama salat tarawih sebagai salat rawatib (ba'diyah
isya')
حاشية البجوري ج ١ ص ١٥٤
وَالْأَفْضَلُ
فِي التَّنَفُّلِ غَيْرِ الرَّوَاتِبِ أَنْ يُقَدَّمَ مَا فَاتَ مِنَ الرَّوَاتِبِ
عَلَى مَا سِوَاهَا
شرح زادت
المستقنع الشنقطي ٢٠/٣٣٢
جواز صلاة
ركعتين من التراويح بنية راتبة العشاء
السؤال
هل تجزئ ركعتان من صلاة التراويح عن راتبة العشاء
الآخرة؟
الجواب
إي نعم، إذا نوى الإنسان أن هاتين الركعتين عن الراتبة
كما لو صلى العشاء في مسجد، وجاء إلى مسجد آخر ووجدهم يصلون التراويح، ودخل معهم بنية
أن التسليمة الأولى لراتبة العشاء، فإن ذلك يجزئه، لقول النبي ﷺ: (إنما الأعمال بالنيات،
وإنما لكل امرئ ما نوى)
Posting Komentar untuk "Dilema Salat Tarawih Tanpa Salat Ba'diyah Isya'"